Jatengtime.com-Demak-Liputan Khusus HUT RI Ke-80.
Suasana Demak Expo 2025 yang diadakan mulai tanggal 6-9 Agustus 2025 di halaman parkir Sport Center Kabupaten Demak, terbuka untuk umum mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB menampilkan 114 stand, terdiri dari 13 stand dari Kabupaten Semarang, 10 stand dari BUMN, BUMD dan perusahaan swasta, 2 stand koperasi, 15 stand Desa Wisata, 73 stand UMKM yang terbagi menjadi UMKM mandiri, forum UMKM kecamatan dan sektor kuliner.
Salah satu stand yang menarik adalah stand Paguyuban Tosan Aji Sapu Jagad (Sengkuyung Angrukti Pusaka Jawi Keluarga Demak) yang menampilkan ratusan benda pusaka (Tosan Aji) berupa keris, pedang, tombak, kujang/kudi, Cundrik Granggang, Wedung (senjata asli Demak) yang berasal dari masa Kerajaan Sriwijaya, mataram Kuno, Majapahit hingga Kerajaan Demak.
Sekda Demak Akhmad Sugiharto,ST.MT dalam kunjungan antar stand Demak Expo 2025 didampingi istri Nur Aeni,SPd (ketua DPW Kabupaten Demak), Rabu (6/8/2025) siang berkenan mampir ke stand Tosan Aji.
Sugiharto menyebut ada kebanggaan tersendiri dengan adanya Tosan Aji merupakan benda purbakala dan bersejarah yang dahulu dipakai pejuang-pejuang Nusantara sebagai senjata untuk melawan dan mengusir penjajah.
Penduduk Majapahit pada abad ke-13 sudah pandai membuat meriam dan Tosan Aji, sedangkan penemu meriam asal Eropa, Alfred Noble membuatnya pada abad ke-15. Dalam sebuah kidung lama, Panji Wijoyo Kromo yang ditulis pada zaman Majapahit akhir yang diterjemahkan dalam kamus Mulder disebut bedil besar adalah meriam dan juru mudining bedil besar adalah operator meriam.
Meriam-meriam Majapahit ini dikembangkan di Demak dan Jepara menjadi ukuran yang lebih besar dan diperdagangkan, sedangkan bahan baku untuk membuat meriam, keris, pedang dan lain-lain harus membeli atau mengimpor besi baja putih seperti titanium (Wesi Khurasani) dari Khurasan, India.
“ Tosan Aji yang sekarang masih dapat kita lihat, memang banyak versi. Ada yang beranggapan adalah benda mistis, bertuah atau segala sesuatu yang dianggap punya kelebihan spriritual. Namun menurut saya pribadi, Tosan Aji adalah warisan budaya yang harus dilestarikan…” kata Sugiharto.
“ Bayangkan ketika ada sebuah keris yang dibuat jaman Kerajaan Singosari sampai sekarang masih utuh dan awet dan biasa dikalangan rekan-rekan pecinta Tosan Aji disebut keris sepuh (tua)…” ujarnya.
“ Disamping dahulu bahan baku yang dipakai untuk membuat keris dari bahan-bahan pilihan seperti besi baja putih, Titanium hingga batu meteorit. Keris yang bisa juga kita sebut benda pusaka selalu dijamas atau dibersihkan. Selain untuk melestarikan budaya dan mengedukasi masyarakat, hal tersebut juga dilakukan guna menjaga kelestarian dan keawetan koleksi barang pusaka yang bersejarah…” ungkapnya.

Keris peninggalan Sunan Kalijaga, Kyai Sengklat dan Kyai Carubuk.
Sekda yang diam-diam juga penggemar keris ini menambahkan bahwa sudah selayaknya warga Demak bangga bahwa tokoh legendaris dan seorang wali yaitu Sunan Kalijaga yang mempunyai warisan keris Kyai Sengkelat dan Kyai Carubuk yang terkenal luas.
“ Keris sebagai warisan budaya yang adiluhung juga ada di Demak, ‘ageman’ Sunan Kalijaga yaitu keris Kyai Sengkelat dan kyai Carubuk yang sampai sekarang masih terawat dengan baik…” imbuhnya.
Keris Wedung/Lading Suro senjata khas perempuan Kerajaan Demak
Keris Wedung/lading Suro digunakan oleh perempuan jaman Kerajaan Demak pasca keruntuhan Majapahit, umumnya dimasukkan ke dalam ‘Kemben’ (pakaian Jawa) karena bentuknya yang kecil, sehingga mudah dibawa.
Pada akhir kerajaan Majapahit dan awal berdirinya kerajaan Demak, ketegangan dan kekacauan melanda rakyat sipil. Banyak rakyat biasa yang melengkapi diri dengan senjata khas waktu itu yang disebut wadung, senjata tajam seperti pisau lebar dan populer sebagai senjata tebas.
Keris Wedung diyakini sebagai sarana perlindungan dari perampok, begal, dan bentuk kejahatan lainnya. Para perempuan Demak dulu juga dibekali ilmu kanuragan untuk bela diri.
“ Jadi ternyata Demak juga mempunyai keris-keris pusaka yang perlu dilestarikan, selain milik Sunan Kalijaga, ada keris Wedung. Bisa jadi nama desa atau kecamatan Wedung yang secara geografis di pesisir pantai diambil dari nama keris Wedung ya…” pungkasnya.







