KOMNAS HAM TURUN KE PATI INVESTIGASI DUGAAN PELANGGARAN HAM SAAT DEMO TURUNKAN BUPATI SUDEWO (Bagian 2)

Jatengtime.com-Pati-Komnas Ham (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia) menurunkan tim untuk investigasi dan menyelidiki penanganan Kepolisian dalam demo besar di Pati, Jawa Tengah pada tanggal 13 Agustus 2025 lalu dipimpin Komisioner Pramono Ubaid Tanthowi selama dua hari (14 dan 15 Agustus 2025) mengumpulkan informasi mulai dari warga, peserta demo, Kepolisian hingga rumah sakit.

Pramono saat pertemuan dengan jajaran Polresta Pati pada Jumat, 15 Agustus 2025 mempertanyakan protap dalam penanganan aksi demo sudah sesuai atau tidak.

Demo Pati tersebut awalnya dipicu ucapan/ tantangan Bupati Pati Sudewo yang tak gentar di demo jangankan 5 ribu orang, 50 ribu dia tidak akan merubah kebijakanya menaikkan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen serta mengubah ketentuan hari sekolah.

Pernyataan Sudewo ini secara luas dianggap provokatif menantang masyarakat Pati dan tidak peka, memperkuat persepsi bahwa dia adalah pemimpinan yang arogan. Sebagai bentuk perlawanan, warga mengorganisir diri melalui Aliansi Masyarakat Pati Bersatu yang baru dibentuk dan mulai mengumpulkan sumbangan logistik dan perlengkapan protes.

Warga Pati secara simbolis berbaris di trotoar di depan Pendopo Kabupaten dengan ribuan tumpukan air minum kemasan dan logistik lainnya, menandakan bahwa warga Pati Bumi Mina Tani siap untuk berunjuk rasa secara besar besaran.

Gerakan ini dengan cepat mendapatkan reaksi berantai di media sosial, dukungan mengalir baik dari warga lokal maupun warganet di seluruh Indonesia, bahkan WNI yang bekerja di berbagai negara. Ironisnya, tokoh-tokoh yang sebelumnya mendukung Sudewo beralih haluan dan menjadi kritikus vokal terhadap bupati, kini memimpin protes.

Dukungan dan bantuan logistik dari warga Pati hingga luar negeri baik berupa air mineral yang terus mengalir sempat membuat Sudewo gentar dan membatalkan kedua kebijakan tersebut. Namun, ribuan warga Pati dibawah komando Husain Al hafidz dan Supriyono ‘Botok’ tetap berunjuk rasa menuntut politikus Gerindra itu mundur.

Menghadapi kemarahan rakyatnya, Bupati Sudewo sempat berusaha meredakan situasi beberapa hari sebelum demonstrasi yang direncanakan dengan mengeluarkan permintaan maaf publik dan membatalkan rencana kenaikan pajak sebesar 250%.

Melalui media sosial resmi Pemkab Pati, Sudewo membuat mengklarifikasi bahwa ia ‘tidak pernah bermaksud menantang rakyatnya sendiri’ dan menyatakan penyesalan atas perkataannya, dengan memohon maaf, “ Saya minta ma’af… Saya tidak bermaksud menantang rakyat saya…”.

Meskipun ada perubahan sikap Sadewo terkait kebijakan pajak yang kontraversi ini, kemarahan masyarakat Pati telah mencapai puncak. Masyarakat Pati memutuskan untuk melanjutkan demonstrasi besar-besaran, memperluas tuntutan mereka tidak hanya pada masalah pajak tetapi juga kecaman yang lebih luas terhadap kepemimpinan Sudewo.

Diluar perkiraan banyak pihak bahwa demo Pati tidak akan terjadi, namun ternyata demo Pati menyatukan berbagai kelompok seperti mahasiswa, komunitas agama, pedagang pasar, mantan pegawai pemerintah hingga ratusan mantan staf Rumah Sakit Umum Daerah Soewondo yang telah diberhentikan sepihak juga turut serta dalam aksi tersebut mengajukan enam tuntutan utama, yakni :
– Sudewo mengundurkan diri sebagai bupati.
– Penolakan terhadap rencana kebijakan ‘5 hari sekolah seminggu’ bagi siswa.
– Pembatalan renovasi Alun-Alun Pati yang menelan biaya Rp2 miliar.
– Penolakan terhadap pembongkaran masjid bersejarah di Alun-Alun Pati.
– Penyelidikan proyek Videotron senilai Rp1,39 miliar dinilai boros dan terbuat dari bahan bekas.
– Menuntut ratusan mantan staf Rumah Sakit Umum Daerah Soewondo yang telah diberhentikan sepihak dipekerjakan kembali.

Demo yang direncanakan berlangsung pada hari Rabu, 13 Agustus 2025 dengan cepat meluas menjadi salah satu aksi massa terbesar dalam sejarah Pati. Sejak Selasa 12 Agustus 2025 pagi hingga tengah malam persiapan terus dilakukan mengikuti pergerakan Bupati Sadewo untuk menghalang-halangi aksi demo.

Sekitar pukul 08.00 WIB pagi, sekitar 100 ribu orang dari seluruh penjuru desa dan kota di Kabupaten Pati berkumpul di Alun-alun dan Pendopo Kabupaten yang bersebelahan. Menjelang siang, massa yang membawa bendera merah putih, spanduk berisi slogan-slogan yang menuntut Bupati Sudewo mundur memenuhi area di depan pendopo. Massa aksi juga meneriakkan ‘Turunkan Bupati Sudewo’.

Pemimpin-pemimpin demo bergantian menyampaikan orasi melalui pengeras suara menekankan bahwa perilaku arogan dan kebijakan tidak populer bupati Sudewo tidak dapat lagi ditoleransi.

Pemimpin-pemimpin demo juga mengingatkan peserta untuk tetap disiplin dan menghindari tindakan anarkis, sebagai bukti bahwa warga Pati santun, cinta damai, dan tidak arogan.

Untuk menjaga keamanan aksi demo, Polresta Pati telah mendatangkan bala bantuan (BKO) dari Polres-Polres sekitar, TNI dan Satpol-PP dengan jumlah 2.684 personel.

Kapolresta Pati Kombes Jaka Wahyudi, didampingi Dandim 0718/Pati Letkol Timotius Berlian Yogi Ananto sempat meyakinkan pendemo bahwa pihak berwenang ‘berdiri bersama rakyat’ dan akan memfasilitasi penyampaian aspirasi mereka kepada DPRD.

Awal antara petugas keamanan dan pendemo tenang, namun menjelang siang hari, perkiraan jumlah peserta yang diperkirakan berkisar antara 25.000 orang ternyata membengkak menjadi sekitar 100.000 peserta membanjiri pusat kota Pati hingga membuat aparat keamanan dan pemerintah kewalahan ditambah petugas pemerintah memasang spanduk dukungan, namun dibawahnya terdapat plakat dekoratif berisi ucapan selamat yang Sarkastis.

Ketegangan meningkat karena berhembus isu ketidakhadiran Bupati Sudewo (sebelumnya, panitia aksi telah memperoleh janji bahwa bupati atau perwakilannya akan hadir saat unjuk rasa untuk mendengar keluhan mereka) para demonstran menuntut adalah agar Sudewo keluar dan menemui rakyat. Namun hingga tengah hari, Sudewo masih belum keluar dari Pendopo yang memicu kemarahan massa.

Sekitar pukul 11.20 WIB, suasana ricuh setelah dialog yang dijanjikan tidak kunjung terlaksana. Upaya koordinator aksi meredakan emosi pendemo gagal, massa mulai melempar botol plastik, batu, sayuran, hingga benda lain ke arah Pendopo serta Polisi anti huru-hara. Sebagian demonstran bahkan mencoba merobohkan gerbang depan Pendopo Kabupaten dan menerobos masuk.

Pukul 11.23 WIB, massa sempat terpukul mundur setelah ada tindakan Polisi dengan Water Cannon dan Gas Air mata (yang diduga kadaluwarsa). Kericuhan demonstrasi kembali meletus setelah pukul 12.16 WIB Sudewo keluar dari kantornya menemui pendemo dengan naik kendaraan taktis milik Polri.

Sudewo kemudian keluar melalui pintu kap atas mobil tersebut sambil memegang mikrofon mohon ma’af serta berjanji akan memperbaiki kinerjanya…” Saya mohon maaf sebesar-besarnya…” namun belum selesai dia mohon ma’af, massa melempari Sudewo dengan sandal, sepatu dan botol air mineral karena dianggap terlambat dan tidak menghargai massa pendemo.

Ajudan bupati dan anggota Brimob di lokasi berusaha melindungi Sudewo dengan tameng. Karena lemparan tak kunjung usai memaksa Sudewo kembali masuk ke dalam kendaraan taktis.

Kericuhan makin meluas ketika Polisi mengurai massa dengan menyemprotkan water cannon dan menembakkan gas air mata, granat asap juga disebut dipakai untuk menghalau warga.

Sisa massa bertahan di pinggiran pusat kota hingga lewat pukul 12.30 WIB. Massa yang tersudut berlarian ke sebuah masjid, namun dilaporkan bahwa polisi tetap menembakkan gas air mata ke arah masjid dan ambulans sehingga tenaga medis ikut mundur. Akibatnya, sekitar 40 orang dilarikan ke rumah sakit karena mengalami sesak napas dan dua polisi ikut terluka.

Puncaknya kericuhan mereda, kerumunan utama massa di depan Pendopo berhasil dipukul mundur dari Alun-alun akibat gencarnya tembakan water cannon dan gas air mata. Kelompok-kelompok massa kemudian berkumpul kembali di jalan-jalan sekitar terutama di sisi barat dekat sebuah gereja di belakang Pendopo di Jalan Dr Wahidin.

Di sini, massa yang emosi menyerang kendaraan yang dianggap dimilik oleh anggota polisi, membalikkan sebuah mobil patroli dari Polres Grobogan yang terjebak dan ditinggalkan saat kericuhan, lalu membakarnya.

Polisi kembali menembakkan lagi gas air mata untuk membubarkan massa dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Sisa-sisa massa masih bertahan di pinggiran pusat kota (di area yang tidak terjangkau gas air mata) hingga lewat pukul 12.30 WIB, mereka sempat berkumpul kembali. Hingga pukul 15.30 WIB, sebagian besar situasi jalan dekat alun-alun Pati terlihat sepi.

Demo Pati yang ricuh mereda setelah perwakilan massa diterima DPRD dan seluruh Fraksi sepakat melakukan Hak Angket terhadap Bupati Sudewo melalui Pansus (Panitia Khusus).

Sehari setelah kericuhan demo di Pati, tim gabungan dari TNI, BPBD, dan Pemadam Kebakaran setempat membersihkan sisa-sisa sampah di kawasan Alun-alun Pati. Jalanan disemprot, tanaman dan rumput diperbaiki serta disirami, serta selokan dibersihkan untuk mencegah penyumbatan.

Lalu lintas di sekitar alun-alun kembali lancar, sementara aktivitas masyarakat seperti olahraga pagi mulai berlangsung kembali. Namun, mobil posko penggalangan dana unjuk rasa masih berada di depan Kantor Bupati Pati. Posko tersebut dipertahankan oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu untuk mengawal proses Hak Angket terhadap bupati yang tengah berjalan di DPRD Kabupaten Pati melalui Pansus (Panitia Khusus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *