Jatengtime.id-Demak-Advetorial-Grebeg Besar Demak, atau yang dikenal masyarakat luas dengan sebutan ‘Besaran’ adalah sebuah tradisi perayaan bersekala besar setahun sekali antara tradisi budaya hingga warisan peradaban Kota Wali.
Sejarah Grebeg Besar Demak berawal dari tradisi para raja-raja Jawa di masa lalu yang selalu menyelenggarakan Selamatan Kerajaan (Wilujengan Nagari) setiap tahun baru. Kemudian, ketika Walisongo mulai menyebarkan agama Islam pada abad ke-XV, pengaruh budaya kerajaan mulai berpadu dengan budaya Islam.
Para wali terutama Sunan Kalijaga yang dekat dengan raja maupun kerabat kerajaan kemudian menggagas Grebeg Besar sebagai media dakwah kepada rakyat yang penuh toleran serta disisipi tentang adab dan perilaku luhur bermasyarakat, bernegara dan beragama yang menjunjung tinggi toleransi.
Gerebeg Besar sesuai dengan namanya yaitu Grebeg atau Garebeg yang artinya deru suara angin atau juga dapat diartikan sebagai pengiring atau perkumpulan. Sementara istilah Besar diambil dari nama bulan yaitu bulan Besar atau bulan Dzulhijjah pada penanggalan Hijriah.
Tradisi Grebeg Besar di Demak ini sudah menjadi agenda nasional dan menarik banyak wisatawan baik lokal dan mancanegara.
Grebeg Besar Demak adalah tradisi tahunan yang digelar setiap tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Tradisi ini merupakan perpaduan antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam yang diwariskan sejak zaman Kesultanan Demak.
Grebeg Besar Demak diawali dengan ziarah ke makam raja-raja atau sultan jaman kerajaan Demak dan Sunan Kalijaga, dilanjutkan dengan kirab gunungan atau yang terkenal dengan Tumpeng Songo yang berisi hasil bumi dan makanan tradisional. Puncak acara ini adalah perebutan gunungan oleh masyarakat, sebagai simbol keberkahan dan rasa syukur.
Keunikan Grebeg Besar Demak terletak pada perpaduan antara tradisi dan nilai-nilai Islam yang kental, serta keragaman acara yang disajikan. Selain kirab Tumpeng Songo, terdapat pula acara-acara lain seperti Kirap Prajurit Patang Puluhan yang mengawal prosesi penjamasan pusaka Sunan Kalijaga dan pasar malam.
Grebeg Besar Demak bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan melestarikan budaya lokal. Tradisi ini menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menyaksikan keunikan budaya Jawa.
Pemerintah Kabupaten Demak mulai menggelar rangkaian Grebeg Besar Demak 2026 yang sarat tradisi budaya dan religi peninggalan Kesultanan Demak. Sejumlah agenda telah berlangsung sejak awal Mei dan akan mencapai puncaknya pada prosesi penjamasan pusaka Sunan Kalijaga yaitu Keris Kiai Carubuk dan Kutang Ontokusumo yang melegenda tepat saat Idul Adha.
‘Besaran’ kali ini merujuk pada perayaan tradisional Grebeg Besar Demak yang puncaknya berlangsung pada Rabu (27/5/2026) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1447 H berlokasi di Taman Parkir Tembiring Jogo Indah Demak sejak 8 Mei hingga 6 Juni 2026. Masyarakat dihibur atau dapat menikmati Pasar Rakyat dan berbagai wahana hiburan.
Penjamasan pusaka Sunan Kalijaga ini menjadi sangat sakral dikarenakan siapa saja tidak boleh melihat wujud asli Keris Kiai Carubuk dan Kutang Ontokusumo dengan mata telanjang walaupun oleh keturunan atau trah maupun petugas penjamasan adalah ritual sakral dan menjadi momen puncak acara Grebeg Besar.
Rangkaian acara Grebeg Besar Demak Tahun 2026.
Pisowanan pemkab Demak ke Sesepuh ahli waris Sunan Kalijaga serta ziarah ke makam raja-raja Demak dan makam Sunan Kalijaga. .
Rangkaian Grebeg Besar tahun 2026 ini diawali dengan tradisi ziarah ke makam raja-raja Demak dan makam Sunan Kalijaga pada Senin, 4 Mei 2026, dilanjutkan pisowanan yang dilakukan antara jajaran Pemerintah Kabupaten Demak dan jajaran Forkopimda, dipimpin Bupati dr.Eisti’anah, SE, yang diterima oleh ahli waris Sunan Kalijaga yaitu Raden Muhammad Cahyo Iman Santoso di Pendopo Notobratan, kelurahan Kadilangu, kecamatan Demak, Kabupaten Demak.
Dalam pisowanan ini, Bupati Demak Eisti’anah mengatakan bahwa tradisi pisowanan menjadi bentuk sinergi dan penghormatan antara ulama dan umaro yang diwariskan sejak masa Raden Fatah dan Sunan Kalijaga.
“ Pisowanan ini bagi kami seluruh jajaran Pemkab dan Forkopimda adalah bentuk rasa kekeluargaan, rasa sayang dan sinergi yang telah diwariskan para pendahulu kita. Dan tradisi pisowaman ini harus terus kita jaga agar tidak punah dan dapat menjadi pemebelajaran generasi muda…” kata ” Bupati Eisti’anah.
Raden Muhammad Cahyo Iman Santoso selaku ahli waris Sunan Kalijaga, menerima pisowanan dari Pemkab Demak sambil berkata nakal ada pisowanan balasan dari pihaknya kepada pihak Pemkab Demak.
Pisowanan balasan pihak keluarga Kadilangu ke pemkab Demak.
Usai menerima pisowanan Bupati Demak atas nama Pemkab Demak dan jajaran Forkopimda, Kemudian pada Selasa (12/5/2026), giliran ahli waris Sunan Kalijaga Kadilangu yang dipimpin sesepunya, Raden Muhammad Cahyo Iman Santoso Kadilangu melakukan pisowanan balasan ke Pendopo Satya Bhakti Praja.
Dalam sambutanya Raden Muhammad Cahyo Iman Santoso atau yang biasa disapa ‘ Pak Sepuh’ menyebut tradisi tersebut bukan sekadar seremoni budaya, tetapi yang lebih bermakna adalah ruang silaturahmi antara ulama dan pemerintah daerah.
“ Karena beberapa hari lalu ibu bupati dan jajaran forkopimda serta jajaran terkait telah melakukan tradisi luhur pisowanan, maka gantian kami juga mengadakan pisowanan balasan kepada ibu bupati, jajaran Forkopimda, Sekda dan seluruh jajaran atau OPD terkait…” kata pak Sepuh.
“ Saling kunjung, saling sowan atau pisowanan adalah warisan budaya luhur serta bentuk hubungan harmonis antara pemimpin daerah dan ulama harus terus dirawat demi kepentingan masyarakat dan umat…” ungkapnya.
Pembukaan Pasar Rakyat.
Agenda Grebeg Besar Demak selanjutnya yakni pembukaan Pasar Rakyat Grebeg Besar yang dibuka langsung oleh Bupati Demak dr.Eisti;anah,SE, digelar di Taman Parkir Tembiring Jogo Indah Demak, pada Rabu (13/5/2026) pukul 19.00 WIB di Panggung Kesenian Demak.
Dengan dibukanya Pasar Rakyat Grebeg Besar ini Kegiatan ini biasanya menjadi pusat keramaian masyarakat dan pelaku UMKM lokal.
Perputaran uang antara pedagang UMKM, warga sekitar hingga penjual jasa hiburan makin ramai. Ditambah lagi pada era bupati Esti’anah ini tidak ada karcis masuk untuk pengunjung yang akan menikmati suasana Besaran, kecuali bagi pengunjung yang akan menikmati wahana permainan dan hiburan tetap harus bayar tiket.
Penyerahan Abon-abon dari keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Tradisi Abon-abon dalam rangkaian Grebeg Besar Demak adalah penyerahan minyak jamas dan perlengkapan pencucian pusaka (ubo rampe) dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kepada Kasepuhan di Kadilangu Demak. Acara ini merupakan penanda utama yang mengawali rangkaian perayaan Grebeg Besar Demak.

Tradisi ini tidak hanya sebagai pelestarian budaya, tetapi juga wujud peneguhan ikatan sejarah antara Keraton Demak Bintoro, Kadilangu dan keraton Surakarta Hadiningrat dalam persiapan menjelang acara puncak jamasan pusaka Sunan Kalijaga
Pada tahun 2026 ini, rangkaian prosesi adat Abon-abon tersebut selenggarakan pada Minggu, 24 Mei 2026 dan Selasa, 26 Mei 2026 di Pendopo Notobratan, Kadilangu, Demak.
Membuat minyak Lisah Sepuh yang merupakan bahan baku yang digunakan untuk jamasan pusaka Sunan Kalijaga, ada syarat dan ketentuan yang berlaku, antara laian :
– Pembuat minyak haruslah ahli waris wanita yang sudah menopause atau tak lagi menstruasi.
– Pembuatan minyak secara manual, dimulai dengan memarut kelapa, memasak santan kelapa, hingga ketika jadi diolah menjadi minyak jamas pusaka Sunan Kalijaga.
– Dicampur dengan bibit minyak wangi yakni minyak cendana, kenanga, melati, melati kraton, minyak telon dan sebagainya.
Kirab Tumpeng Songo.
Tahapan Grebeg Besar Demak selanjutnya kirab budaya Tumpeng Songo dan dua Gunungan Hasil Bumi yang diarak dari Pendopo Satya Bhakti Praja menuju Masjid Agung Demak, pada Selasa (26/5/2026) malam.
Kirab ini ditunggu-tunggu ribuan warga baik dari Kabupaten Demak maupun luar kabupaten yang konon biasanya terdiri dari para petani yang rela berebut nasi tumpeng untuk sisebarkan ke areal persawahanan mereka.

Ribuan masyarakat rela berdesakan namun tertip menunggu prosesi sejak tumpeng diarak hingga di do’akan oleh ulama di dalam Masjid Agung Demak. Tradisi tahunan yang menjadi bagian dari rangkaian Grebeg Besar Demak tersebut berlangsung meriah dan penuh nuansa religius.
Prosesi kirab dibuka langsung oleh Bupati Demak, dr. Eisti’anah, SE, didampingi Wakil Bupati KH. Muhammad Badruddin, Sekretaris Daerah Demak Akhmad Sugiharto, ST.MT serta jajaran Forkopimda hingga kepala OPD Kabupaten Demak.
Sekretaris Daerah Demak Akhmad Sugiharto, ST.MT kepada awak media menyatakan bahwa tradisi Tumpeng Songo memiliki makna filosofis dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat Demak.
“ Bentuk tumpeng yang menjulang ke atas melambangkan kodrat manusia untuk selalu mengingat Allah SWT sebagai Sang Pencipta alam semesta. Sementara itu, kata ‘Songo’ dimaknai sebagai simbol sembilan wali yang dikenal dengan keteladanan, kelembutan hati, serta kebijaksanaan dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa…” kata Sugiharto.
“ Rangkaian tradisi Grebeg Besar ini harus terus dijaga sebagai media pengingat bagi masyarakat Demak akan warisan leluhur yang patut dilestarikan, sehingga wasilah keberkahan para leluhur dapat terus dirasakan seluruh warga Demak…” pesanya.
“ Tradisi budaya besaran ini tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga mampu mempererat tali silaturahmi antara masyarakat, ulama dengan para pemimpin daerah serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT…” pungkasnya.
Kepala Dinas Pariwisata Demak, Endah Cahya Rini, menambahkan bahwa Kirab Tumpeng Songo dan Gunungan Hasil Bumi menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan dalam rangkaian Grebeg Besar Demak setiap tahunnya.
Perpaduan budaya, religi dan tradisi peninggalan para wali menjadi identitas khas Kabupaten Demak sebagai Kota Wali sekaligus daya tarik wisata budaya dan religi.
“ Melalui tradisi Grebeg Besar ini, kami ingin mengenalkan sekaligus menguatkan citra Demak sebagai destinasi wisata religi dan budaya. Antusiasme masyarakat yang luar biasa menjadi bukti bahwa warisan budaya yang luhur ini tetap hidup dan dicintai…” kata Endah.
Endah menambahkan, Dinas Pariwisata Demak akan terus mendukung pelestarian seluruh tradisi Grebeg Besar agar tetap lestari, berkembang, serta mampu memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.
Berburu Sego Ancakan, nasi yang dihidangkan diatas anyaman bambu beralas daun jati..
Tradisi adat Ancakan juga diminati banyak pengunjung Grebeg Besar Demak yang digelar di area Pendopo Notobratan, Kelurahan Kadilangu, pada Selasa (26/5/2026), prosesi budaya yang sarat makna tersebut mendapat sambutan antusias masyarakat dengan tertib menyaksikan jalannya acara.
Asisten II Agus Musyafak menjelaskan, sego ancakan adalah nasi yang diletakkan di atas rangkaian bambu atau ancak dan dibungkus daun jati memiliki filosofi mendalam sebagai simbol rasa syukur masyarakat Demak atas keberkahan yang diberikan Allah SWT.
seluruh makanan yang telah disiapkan dan didoakan langsung oleh Sepuh Kadilangu HR. Muhammad Cahyo Iman Santoso itu diharapkan membawa keberkahan bagi masyarakat yang memperebutkannya.
Seluruh Sego Ancakan yang telah disiapkan dan didoakan langsung oleh Sepuh Kadilangu Raden Muhammad Cahyo Iman Santoso itu diharapkan membawa keberkahan bagi masyarakat yang memperebutkannya.
“ Sego ancakan ini merupakan simbol rasa syukur atas keberkahan yang diberikan Allah SWT kepada Kabupaten Demak dan masyarakat selama ini…” kata Agus.
Tradisi Ancakan bukan hanya sekadar agenda tahunan, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai historis dan spiritual tinggi bagi masyarakat Demak.
“ Tradisi seperti Ancakan ini menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya Kabupaten Demak. Antusiasme masyarakat yang selalu tinggi setiap tahunnya membuktikan bahwa warisan budaya lokal tetap hidup dan dicintai lintas generasi…” pungkasnya.
Kirab Prajurit Patangpuluhan
Jelang puncak rangkaian Grebeg Besar Demak tahun 2026 yaitu Penjamasanan pusaka Sunan Kalijaga adalah adalah Kirab Prajurit Patangpuluhan. Sebuah tradisi tahunan yang selalu sukses menarik minat ribuan wisatawan dan warga dari berbagai daerah untuk memadati jalur kirab dari Pendopo Kabupaten Demak menuju makam Sunan Kalijaga yang berjarak sekitar 2 km.
Rute kirab Prajurit Patangpuluhan ini dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak, kemudian melintasi Jalan Jimat, kawasan Pecinan, Jalan Sultan Fatah, depan Pasar Bintoro, Kracaan, Jalan Sunan Kalijaga, Jalan Raden Sahid, hingga berakhir di kompleks Makam Sunan Kalijaga Kadilangu.
Dalam prosesi kirab ini, 40 prajurit mengenakan busana tradisional lengkap dengan atribut tombak dan tameng. 40 prajurit ini bertugas mengawal rombongan Bupati Demak, Wakil bupati, Sekretaris Daerah, jajaran Forkopimda serta para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menuju kawasan Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu.
Dalam kirab Prajurit Patangpuluhan tahun ini berbeda, menurut informasi, keris yang dipakai 40 prajurit dan para pejabat terkait adalah keris asli dan berumur tua koleksi dari Sekretaris Daerah Demak Akhmad Sugiharto, ST.MT.

Rombongan kirab ini juga membawa kembang setaman serta berbagai ubo rampe (Sesaji) yang nantinya akan digunakan sebagai campuran dalam prosesi penjamasan benda pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga bersama pihak Kasepuhan Kadilangu.
Prajurit Patangpuluhan secara historis memegang peranan penting dalam tradisi Grebeg Besar Demak. Keberadaan 40 prajurit ini tidak hanya menjadi simbol sejarah Kerajaan Demak Bintoro, tetapi juga sarat akan nilai religi dan budaya.
Pada masanya, 40 prajurit ini merupakan pasukan elite Kerajaan Demak Bintoro yang dikenal sebagai pengawal khusus dalam berbagai agenda penting kerajaan. Hingga saat ini, tradisi tersebut dipertahankan sebagai bagian dari rangkaian Grebeg Besar Demak setiap tanggal 10 Zulhijah, khususnya dalam prosesi pemberangkatan minyak jamas.
Digambarkan, Prajurit Patangpuluhan bertugas mengawal minyak jamas khusus pemberian Raja Demak Bintoro untuk diserahkan kepada sesepuh Kadilangu untuk digunakan menjamas atau membersihkan dua pusaka utama peninggalan Sunan Kalijaga, yaitu Keris Kiai Crubuk dan Kutang Ontokusumo.
Penjamasan Pusaka Sunan Kalijaga
Puncak Grebeg Besar Demak 2026 adalah prosesi penjamasan pusaka Sunan Kalijaga. Tradisi sakral tersebut dilaksanakan langsung oleh pihak Kasepuhan Kadilangu dan menjadi salah satu agenda budaya-religi terbesar di Demak yang selalu menarik perhatian peziarah dari berbagai daerah.
Penjamasan pusaka Sunan Kalijaga ini menjadi sangat sakral dikarenakan siapa saja tidak boleh melihat wujud asli Keris Kiai Carubuk dan Kutang Ontokusumo dengan mata telanjang walaupun oleh keturunan atau trah maupun petugas penjamasan adalah ritual sakral dan menjadi momen puncak acara Grebeg Besar.
Pusaka milik Sunan Kalijaga yakni keris Kyai Carubuk dan Kotang Ontokusumo disucikan menggunakan minyak jamas khusu yang bernama ‘Lisah Sepuh’. Sebelum melaksanakan ritual penyucian pusaka milik Sunan Kalijaga, terlebih dahulu para abdi dalem mengambil minyak jamas di gedung pangeran di Kelurahan Kadilangu, Demak.
Lisah Sepuh merupakan campuran minyak cendana dan minyak melati serta minyak khusus hasil olahan kerabat Sunan Kalijaga, yang dipercaya mengandung berkah dari waliyullah. Sedangkan serah terima minyak jamas dilakukan antara anak cucu Sunan Kalijaga dengan abdi dalem pilihan.
Seusai menerima minyak jamas, para abdi dalem bergegas membawa menuju makam kanjeng Sunan Kalijaga, dengan diiringi para sentono lainnya. Sesampainya di makam, kerabat Sunan Kalijaga tidak diperkenankan masuk ke cungkup, sebelum melakukan prosesi doa tawasulan.
Usai pembacaan doa, juru kunci makam segera membuka pintu rumah cungkup yang diikuti oleh tim penjamas untuk melaksanakan penjamasan pusaka yang tersimpan di atas makam Sunan Kalijaga.










