Jatengtime.com-Demak-HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan Aids (Acquired Immunodeficiency Syndrome) sampai saat ini masih menjadi permasalahan kesehatan negara-negara se-dunia dan mengalami peningkatan kasus setiap tahunnya, termasuk di Indonesia.
Walaupun dibayang-bayangi 41 ribu pengguna BPJS yang ‘hilang’, Pemkab Demak melalui Dinkesda terus melakukan upaya pencegahan (promotif dan preventif ) seperti penyuluhan kesehatan berbasis masyarakat menjadi strategi penting dalam mengurangi penyebaran dan stigma terhadap penderita HIV/AIDS.
Kepala Puskesmas Kebonagung Arief Setiawan dilokasi Tes Skrining HIV kepada masyarakat sasaran yang terdiri dari pengelola dan LC (Lady Companion/ Pememndu karaoke) menambahkan kondisi yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam upaya Pemkab Demak dalam mengendalikan penyebaran virus HIV dan memberikan dukungan bagi penderita adalah dukungan seluruh lapisan masyarakat.
HIV adalah virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan AIDS. Masyarakat yang kemudian juga berpotensi mengidap HIV diminta memahami lebih lanjut mengenai langkah-langkah penting seperti pemeriksaan, cara penularan dan cara pencegahan virus HIV.
“ Inilah peran serta seluruh lapisan yang juga berpotensi menjadi penderita HIV, jangan dikucilkan atau dibenci penderita HIV, jauhi saja penyakitnya. Masyarakat harus memahami dan mendukung metode pemeriksaan HIV. Pemeriksaan HIV merupakan langkah kritis dalam mendeteksi dan menegakkan diagnosis HIV pada seseorang…” kata Arief.
Menurut salah satu pakar HIV/Aids Kabupaten Demak ini, pemeriksaan HIV dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode utama, yaitu pemeriksaan Serologis (pemeriksaan yang digunakan untuk menguji keberadaan antibodi anti-HIV dalam darah seseorang).
“ Pemeriksaan Serologis dapat dilakukan pada anak usia kurang lebih 18 bulan dan hasilnya dikatakan positif jika tiga metode atau tiga reagen berbeda menunjukkan hasil reaktif…” ujarnya.
Kemudian pemeriksaan Virologis, digunakan untuk mendeteksi jumlah dan aktivitas HIV dalam darah. Pemeriksaan virologis kuantitatif atau kualitatif dapat membantu mengukur viral load HIV dan memantau respons terhadap pengobatan ARV. Ketepatan dan akurasi pemeriksaan HIV sangat penting untuk menetapkan diagnosis yang tepat dan segera memulai pengobatan ARV jika diperlukan.
“ Inti dari semua ini adalah penderita HIV/ Aids atau sering disebut Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) kerap mendapatkan diskriminasi dari masyarakat atau lingkungan tertentu. Jauhi penyakitnya bukan orangnya. Terus kita dukung penderita HIV/Aids bahwa mereka tidak sendiri…” pintanya.
Burung yang suka jajan sembarangan.
Arief juga mengingatkan bahwa seluruh masyarakat agar tdak melakukan diskriminasi kepada ODHA karena juga berpotensi tertular atau terpapar jika suka berperilaku seks bebas.
“ Diskriminasi kepada saudara-saudara kita tersebut tidak baik. Kan kita semua suatu saat bisa tertular atau terpapar lho, terutama kepada kaum pendekar (pria) yang burungnya suka hinggap dan jajan sembarangan lho…” pungkasnya.







