Jatengtime.com-Mataram-Kasus peredaran narkoba yang melibatkan oknum Polisi makin melebar saling buka-bukaan. Eks Kasatresnarkoba (Sudah di PTDH) AKP Malaungi tidak mau dijadikan tersangka utama, dia ‘bernyanyi nyaring’ bahwa komandanya, Kapolres Bima Kota, Nusa Tenggara Barat, AKBP Didik Putra Kuncoro ikut terlibat, minta dibelikan mobil Toyota Alpard keluaran terbaru senilai Rp 1,8 miliar.
Permintaan fantastis tersebut terungkap dari pernyataan kuasa hukum AKP Malaungi, Asmuni dalam konferensi pers di Mataram, Kamis (12/2/2026) awalnya minta setoran Rp 1 miliar.
“ Uang Rp1 miliar itu dari Koko Erwin diserahkan klien kami AKP Malaungi secara tunai ke Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro melalui ajudannya yang dipanggil ‘Ria’…” kata Asmuni.
Diketahui, ‘Ria’ adalah nama panggilan Teddy Adrian, ADC (Aide-De-Camp)/ajudan Kapolres Didik yang menerima uang tunai Rp1 miliar dari AKP Malaungi dalam kardus bekas Bir Bintang. Asmuni meyakinkan bahwa AKP Maulangi menyerahkan uang secara tunai kepada Teddy pada 29 Desember 2025 atas arahan Kapolres.
“ Usai menyerahkan di malam hari, klien kami (AKP Malaungi) langsung mengirim pesan melalui WA kepada Kapolres dengan sandi ‘BBM sudah diserahkan ke ADC’…” ujarnya.
Uang Rp1 miliar tersebut ternyata berasal dari Koko Erwin, merupakan tindak lanjut permintaan AKBP Didik yang meminta mobil Alphard seharga Rp1,8 miliar kepada AKP Malaungi.
Permintaan fantastis itu berawal dari isu yang tersebar di kalangan masyarakat di Kota Bima, AKBP Didik menerima uang setoran tiap bulan dari para bandar narkoba dengan nominal mencapai Rp 400 juta.
Untuk menutupi isu tersebut, AKP Malaungi dibebani oleh AKBP Didik untuk mencari uang setoran dan sekaligus meminta agar dibelikan mobil Alphard keluaran terbaru. Dari uang setoran tersebut, disisihkan Rp100 juta akan digunakan untuk membungkam wartawan/ media massa yang membuat makin rame isu Kapolres menerima uang setoran dari para bandar.
“ Jadi, ini sebuah bentuk tekanannya, klien kami (AKP Malaungi) dibebankan untuk membeli atau memberikan satu unit mobil Alpard keluaran terbaru dan bungkam wartawan…” ungkapnya.
Dengan adanya tekanan dari dari komandanya Kapolres AKBP Didik, AKP Malaungi sempat bingung dan tertekan, jika tidak bisa memenuhi akan dicopot dari jabatanya, dimutasi ke Polda NTB, hingga akhirnya menceritakan masalah yang dihadapinya kepada istrinya.
Istri Malaungi sempat menyarankan agar melepaskan jabatanya sebagai Kasatrenarkoba, karena ‘setoranya’ terlalu berat.
“ Karena bingung, tertekan, klien kami cerita ke istrinya. ‘Dari mana saya dapat uang sebanyak itu untuk beli mobil Alphard…?. Kalau tidak dipenuhi, klien kami dicopot dari jabatannya, diparkir di lapangan Bhara Daksa Polda NTB. Istrinya pun sempat minta AKP Malaungi lepas saja jabatan itu, terlalu berat…” imbuhnya menirukan pengakuan Malaungi.







