Jatengtime.com-Demak-Curah hujan yang tinggi di daerah sekitar Rawapening, Kabupaten Semarang yang dikelilingi lereng Gunung merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran membuat Sungai Tuntang yang menjadi sungai utama menuju Laut Jawa tidak mempu menampung debit air.
Akibatnya, tanggul sungai di wilayah grobogan dan Demak jebol. Untuk wilayah Demak yang jebol tepat di Desa Trimulyo dan Sidoharjo Kecamatan Guntur dan Desa Ploso Kecamatan Karangtengah pada Jumat (3/4/2026).
Sekda Demak, Akhmad Sugiharto,ST.MT langsung memimpin penanganan bencana banjir akibat tanggul Sungai yang jebol tersebut.
“ Sejak pukul 06.00 WIB kami sudah menerima laporan dari perangkat desa dan warga bahwa keadaan tanggul Sungai Tuntang kritis. Seketika kami buat skema penanganan bencana…” kata Sugiharto.
“ Kami langsung kirim gabungan relawan kebencanaan Demak, personil TNI dan Polri termasuk juga mengirim sak untuk penanggulangan tanggul kritis…” ujarnya.
Namun ternyata upaya warga untuk meninggikan tanggul dengan 3 lapis sak yang diisi tanah tidak mampu menahan debit air yang makin tinggi, sehingga sekitar pukul 10.00 WIB tanggul jebol di beberapa titik, masing masing 1 tanggul wilayah Dukuh Gobang, 2 tanggul di wilayah Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo dan 1 tanggul di wilayah Dukuh Nglegok, Desa Sidoharjo. Sedangkan Desa Ploso air berupa limpasan Sungai Tuntang namun dengan debit air yang sangat tinggi.

“ Alhamdulillah relawan gabungan di Demak itu banyak, ada dari Pramuka, BPBD, Pecinta alam, Paskuman (Pasukan Khusus Pemakaman) Covid-19, PMI, Kalijogo Jeep dan lain-lain, sehingga setelah tanggul jebol dan warga minta evakuasi langsung kita tangani. Dan sampai besuk pagi masih ada relawan yang memantau dilokasi, siapa tahu ada warga yang awalnya bertahan di rumahnya terus minta evakuasi…” ungkapnya.
Sekda menambahkan berbarengan dengan proses evakuasi yang dilakukan TNI, Polri dan gabungan relawan, dinas-dinas terkait langsung mempersiapkan kebutuhan warga di pengungsian yang tersebar diberbagai titik.
“ Bencana alam seperti banjir sering terjadi di Demak, untuk itu Pemkab yang dapat dikatakan berpengalaman dalam penanganan bencana sebelum dan setelah tanggul jebol, langsung lakukan koordinasi dengan dinas terkait seperti BPBD, Dinas Sosial, Dinas kesehatan, Basnas dan PMI untuk pemenuhan kebutuhan mendesak pengungsi…” ujarnya.
“ Pemkab Demak tetap hadir ditengah masyarakat yang sedang mengalami musibah, usai evakuasi, kebutuhan mendesak pengungsi menjadi prioritas utama terutama dalam hal kesehatan. Ada balita dan manula yang ada dipengungsian yang tentunya menjadi salah satu prioritas pelayanan…” imbuhnya.
3 rumah hancur dan lenyap diterjang banjir.
Sugiharto membenarkan ada 3 rumah yang hancur dan lenyap diterjang banjir bandang akibat tanggul Sungai Tuntang yang jebol. Rumah-rumah warga yang mengalami musibah letaknya di bawah tanggul sungai.
“ Iya benar, laporan yang kami terima ada 3 rumah yang handur dan hilang akibat diterjang air. Kebetulan saya mendapat kiriman video dari relawan Paskuman Covid-19 detik-detik jebolnya tanggul Sungai Tuntang yang menerjang 3 rumah warga tersebut di Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo. Alhamdulillah seluruh penghuninya selamat dan sekarang mengungsi di tempat aman. Untuk kerugian materiil warga belum bisa kami sampaikan, masih dalam proses pendataan. Mungkin besuk data-datanya sudah bisa kami laporkan…” pungkasnya.













