Jatengtime.com-Demak-Pemerintah Kabupaten Demak dalam inovasi pelayanan publik melalui program ‘Demang Ngantor di Desa’ dalam upaya nyata mendekatkan layanan pemerintah langsung ke tengah masyarakat yang digelar di Desa Sumberejo, Kecamatan Mranggen, Rabu (15/04/2026) ada yang cukup spesial, yaitu penyerahan simbolis Santunan Jaminan Kematian (JKM) kepada almarhum Agus Salim, S.Ag (49) Rt 5/3, Desa Brumbung jabatan terakhir kepala sekolah MA (Madrasah Aliyah) Anwarul Qur’an, Desa Waru, Kecamatan Mranggen.
JKM diserahkan langsung langsung oleh Bupati Demak dr. Eisti’anah, SE, dan diterima ahli waris (istri almarhum) Eti Iftachiah (47). Bupati yang dikenal dengan panggilan Mbak Esti dan punya rekam jejak santriwati hanya berpesan agar selalu menjaga amanah almarhum di bidang pendidikan agama Islam dan melanggengkan ilmu serta tanggung jawab sebagai Hafidhoh (penghafal Al-Qur’an).
“ Kami seluruh jajaran Pemkab Demak haru dan bangga, sepanjang hidup almarhum dicurahkan dalam dunia pendidikan agama Islam telah banyak mendidik generasi muda yang taat beragama. Sekaligus kami bangga, ternyata istri dan anak almarhum adalah Hafidhoh-hafidhoh yang ilmunya sangat bermanfaat bagi bangsa, negara dan masyarakat…” kata Mbak Esti.
“ Tugas para penghafal Al-qur’an sangat berat dan penuh cobaan. Seperti pesan dari almarhum KH Maemoen Zubair (Mbah Moen) penghafal atau ahli Qur’an adalah benteng terakhir moralitas dunia. Selama wahyu Allah masih dibaca, dihafalkan dan diamalkan, menjadi penanda keberkahan masih ada di bumi. Dunia tidak akan kiamat selama masih ada orang mau mengaji…” ungkanya.
Eti Iftachiah, anak ke 2 dari pasangan (Alm) Rohmat dan Mukaromah asal RT 1/1 Desa Loireng, Kecamatan Sayung adalah seorang Hafidhoh lulusan Pondok Tahfidz Al-Qur’an Miftahul Ulum, Terboyo Wetan, Genuk, Semarang, ternyata adik ipar Pemred (Pemimpin Redaksi) media on-line Jatengtime.com
“ Atas nama keluarga, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati Demak dan seluruh jajaran serta instansi terkait, hari ini telah memberikan sebuah penghargaan (santunan JKM) kepada almarhum adik saya, yang selama hidupnya telah mendarmabaktikan dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan agama Islam…” kata Pemred jatengtime Zuliadi Akhmad.
“ Sebagai insan pers yang terbiasa hidup dijalanan, penghargaan ini tidak saya lihat sebagai nominal santunan dalam rupiah, namun adalah sebuah amanah dari negara yang wajib kami jaga dan harus kembali bermanfaat kepada masyaakat, bangsa dan negara. Seperti pesan ibu bupati kepada adik saya…” pungkasnya.
Almarhum Agus Salim S.Ag, meninggalkan 1 istri (Eti Iftachiah) dan 3 anak. Anak pertama Maulidatussururiah (23) meneruskan jejak ibunya, penghafal Al-Qur’an lulusan Pondok Tahfidz Al-Qur’an Nurul Burhani, Futuhiyah 2 Mranggen, anak ke 2 Nurul Hidayah (19) santriwati Pondok Tahfidz Al-Qur’an Nurul Burhani, Futuhiyah 2 Mranggen sekaligus mahasiswi UIN Semarang. Anak ke 3 Muhammad Faiqurrohman Robani (11) siswa SDN Brumbung.
Dalam program ‘Bupati Ngantor di Desa’, Mbak esti menegaskan, kegiatan yang langsung bertemu masyarakat ini tidak hanya sekadar simbolis, namun bentuk seluruh pelayanan terpadu yang benar-benar dirasakan warga.
Sejumlah OPD dilibatkan, di antaranya Dinsos P2PA, Dindagkop UMKM, Dindukcapil, Dinkesda, Dinperpusar, hingga BPKPAD. Instansi vertikal lain seperti BPJS Ketenagakerjaan, Samsat, PLN dan Imigrasi juga turut membuka layanan di lokasi kegiatan.
Warga memanfaatkan kesempatan yang dicetuskan Mbak esti ini untuk mengurus berbagai keperluan administrasi dan layanan lainnya, mulai pembuatan KTP, KK, akta kelahiran, layanan KB, pembayaran pajak PBB-P2, perpanjangan STNK, pembuatan KTP dan KK.
Perhatian pelayanan yang inklusif juga diberikan Pemkab Demak kepada kelompok rentan, masyarakat kurang mampu serta penyandang disabilitas berupa bantuan pemberdayaan.
Menurut Mbak Esti, program ini dinilai lebih efektif sekaligus membuka ruang komunikasi langsung antara pemerintah dan masyarakat, sehingga setiap persoalan di lapangan bisa diketahui dan ditangani dengan cepat.
Program ‘Demang Ngantor Desa’ juga menjadi sarana evaluasi kebijakan seperti PKH, warga yang sebelumnya tidak menerima PKH, bisa langsung ditindak lanjuti. Jika kuota dari pusat tidak tersedia, maka Pemkab Demak akan mengupayakan solusi dari program daerah.
Program ‘Demang Ngantor di Desa’ yang juga dihadiri Wabup Muhammad Badruddin (Gus Bad), Sekda Akhmad Sugiharto,ST.MT, para asisten Sekda dan Kepala OPD terkait akan terus berlanjut dengan menyasar kecamatan se-Kabupaten Demak.







