‘SEBUAH HARAPAN’, PENANAMAN NILAI-NILAI BUDAYA BANGSA DALAM KINERJA KARYAWAN SANGAT PENTING, OLEH ANDI ERWIN PRASETYO

Jatengtime.com-Semarang-‘Sebuah Harapan’ penanaman nilai-nilai budaya bangsa dalam kinerja karyawan dinilai sangat penting oleh Andi Erwin Prasetyo, Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Sultan Agung Semarang, Angkatan : 81.

Erwin menilai penanaman nilai-nilai budaya bangsa dalam kinerja karyawan, sama dengan kearifan nilai-nilai budaya Nusantara yang terdari dari berbagai suku, semua mengajarkan tentang adab dan kebajikan serta kebijakan.

Adab dan kebajikan serta kebijakan ini, oleh Erwin menjadi buah pemikiran yang tertuang dalam Opini tentang Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) dengan pokok pikiran :

Pemikiran mengenai pengaruh nilai-nilai budaya bangsa dalam diri setiap karyawan perusahaan ini muncul didorong oleh pengalaman sehari-hari, baik ketika berada di tempat kerja maupun ketika berinteraksi di luar tempat kerja.

Berawal dari satu kejadian, disusul muncul kejadian-kejadian lainnya yang kemudian muncul suatu pertanyaan: apakah di era teknologi yang semakin maju ini, budaya atau tradisi bangsa sudah tidak menjadi bagian yang penting dalam budaya kerja kita?

Kemudian apakah dalam kita bekerja hanya hasil saja yang kita pentingkan tanpa memperhatikan bagaimana proses untuk mencapai hasil itu berjalan…?

Berawal dari kurangnya sikap menghormati dan bersikap santun (unggah ungguh-Jawa-Red) baik kepada atasan atau dengan teman kerja yang lebih tua. Kemudian juga muncul persaingan antar karyawan untuk mendapatkan hasil sebaik mungkin, sehingga memunculkan sikap egosentris antar tiap individu dan hilangnya sikap sopan santun, saling tolong menolong atau sikap empati baik kepada atasan atau rekan kerja.

Pengaruh Budaya Kerja terhadap Kinerja Karyawan

Hal ini menjadi menarik dan yang sering dipertanyakan oleh banyak pihak, terutama oleh generasi kerja muda saat ini (Gen Z) dan beberapa peneliti tentang Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) atau HRD.

Dalam beberapa jurnal penelitian di dapatkan bahwa budaya kerja bukan sebagai faktor utama yang menentukan kinerja karyawan, dimana faktor kepemimpinan dan penghargaan (Rewardship) lebih efektif dalam mendongkrak kinerja.

Namun demikian ada hal yang sering dikesampingkan oleh generasi muda kita, yaitu bahwa dalam bekerja dibutuhkan suasana kerja yang kondusif. Kondusif yang dimaksud adalah kenyamanan, sedangkan kenyamanan itu sendiri bisa tercipta apabila hubungan antara atasan dengan bawahan dan antara bawahan dengan bawahan dapat terjalin dengan baik.

Budaya kerja yang saling hormat menghormati, sopan santun, tolong menolong dan sikap empati kepada sekitarnya merupakan merupakan variabel terbentuknya suasana di tempat kerja yang nyaman.

Budaya dan Etika di Indonesia

Erwin mewanti-wanti agar dipahami dan ditanamkan dalam hati, bahwa kita ini adalah bangsa Indonesia yang dikenal dunia sebagai bangsa yang mempunyai adat istiadat, budaya, etika moral, dan pandangan hidup yang menjunjung tinggi rasa saling menghormati dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Indonesia nampak selalu sopan, ramah dan ringan tangan saling membantu jika ada yang kesulitan.

Budaya Indonesia sebenarnya tergambar dengan jelas pada Sila-sila dalam Pancasila, yang telah disepakati oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai pandangan dan falsafah hidup bangsa.

Pemahaman tentang Pancasila bagi generasi muda, terutama bagi yang sudah masuk pada usia kerja, merupakan suatu usaha kita agar nilai-nilai budaya bangsa tidak luntur dan tetap terpelihara dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia.

Pendidikan tentang Pancasila perlu terus diberikan kepada generasi muda penerus bangsa mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.

Implementasi

Lalu kemudian, bagaimana seharusnya kita bersikap di dalam dan di luar ruang atau tempat kerja?. Budaya kerja di Indonesia adalah perpaduan antara nilai-nilai tradisional seperti kekeluargaan, penghormatan terhadap senioritas dengan pengaruh modern yang dibawa oleh globalisasi.

Menghargai norma-norma lokal sambil tetap berinovasi dengan praktik kerja global adalah kunci untuk mencapai keberhasilan dalam lingkungan kerja. Pengalaman kerja dan usia perlu dihargai, dan keputusan-keputusan penting sering kali diambil oleh mereka yang lebih senior, terlepas dari latar belakang pendidikan atau keterampilan teknis.

Hal ini menciptakan struktur organisasi yang berjenjang, di mana keputusan mengalir dari atas ke bawah. Adalah baik ketika seorang mudah mengucapkan kata santun permisi atau mohon maaf ketika melintas di depan orang lain, kemudian seorang atasan menyapa bawahannya dan seorang bawahan bersikap sopan di depan atasan atau temannya.

Dari ucapan santun tersebut akan menimbulkan rasa empati terhadap sesama bukanlah sesuatu buruk di jaman modern ini, dimana teknologi memegang kendali kehidupan.

Hal-hal kecil seperti ini akan memberikan dampak luar biasa kepada budaya kerja masyarakat Indonesia yang kemudian akan membawa kearah peningkatan kinerja karyawan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Erwin mengakhiri buah pikiran ini dengan menyebut bahwa kita tidak perlu harus mengadopsi seluruh pengaruh budaya dari dunia luar untuk maju, yang kemudian merubah kepribadian kita sebagai bangsa Indonesia. Kita hanya perlu melakukan adaptasi untuk  menciptakan perpaduan antara budaya lokal yang hangat dan pendekatan modern yang efisien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *