BUPATI DAN WABUP KUDUS TEMUI MASA AKSI UNJUK RASA KECAM TARI EROTIS KONI AWARD DALAM PENDOPO KABUPATEN (Bagian 2)

Jatengtime.com-Kudus-Bupati Sam’ani Intakoris, S.T.,M.T. dan wakil bupati Bellinda Putri Sabrina Birton, S.Ked Senin (5/1/1016) temui masa unjuk rasa yang digelar puluhan massa yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kudus Bermartabat sambil membentangkan tanda mata ‘jemuran celana dalam perempuan’.

Di hadapan massa, Bupati menyampaikan permohonan ma’af atas kegaduhan yang terjadi di pendopo beberapa yang hari lalu karena adanya tari erotis dalam ‘Dancersport dalam acara KONI Award’.

Diketahui sebuah video acara di Pendopo Kabupaten Kudus menampilkan perempuan berbaju seksi menari erotis menari viral di media sosial.

“ KONI Kudus acara penampilan tari semalam di Pendopo Kudus, mungkin lebih baik pakaiannya jangan terlalu terbuka, katanya Kota Santri, sangat disayangkan…” tulis salah satu netizen.

Menanggapi hal tersebut Ketua KONI Kudus, Sulistyanto, segera meminta ma’af karena adanya penampilan senam oleh salah satu atlet di Pendopo Kabupaten Kudus pada Senin (29/12/2025) malam dinilai kurang pas.

Sulistyanto juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada Bupati Sam’ani dan masyarakat Kudus.

“ Atas kejadian tadi malam saya selaku Ketua KONI kita menyampaikan permohonan maaf kepada pak Bupati atas kejadian tadi malam penampilan dari tim kami…” ujarnya.

“ Selain pak bupati kita menyampaikan permohonan ma’af kepada masyarakat Kudus karena hal tersebut mengganggu keresahan masyarakat. Sehingga kita perlu menyampaikan permohonan ma’af secara langsung,” lanjutnya.

Menurut Sulis, penampilan tersebut termasuk dalam cabor IODI (Ikatan Olahraga Dancesport Indonesia), induk organisasi yang menaungi olahraga tari atau dansa kompetitif (Dance sport) di Indonesia, yang menggabungkan seni tari, teknik, ritme, serta kekuatan fisik dalam berbagai gaya seperti ballroom, salsa, dan hip-hop.

Warga Kudus sontak geram dan melakukan aksi unjuk rasa yang dikuti puluhan massa yang tergabung dalam ‘Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kudus Bermartabat’ Senin (5/1/2026) menggelar unjuk rasa dengan membawa tanda mata ‘jemuran celana dalam perempuan’.

‘ Jemuran celana dalam’ dibentangkan massa aksi sebagai bentuk protes keras terhadap penampilan ‘Dancersport dalam acara KONI Award’, di Pendapa Kabupaten Kudus pada 29 Desember 2025 lalu, yang dinilai mencoreng nama Kabupatn Kudus serta melanggar etika dan norma lokal.

Dalam aksinya, warga Kretek bergerak ke dua titik, yakni Gedung DPRD Kudus dan Pendapa Kabupaten Kudus. Mereka membawa pengeras suara, spanduk, serta poster tuntutan.

Koordinator aksi ‘jemuran celana dalam perempuan’, Soleh Isman, menilai penampilan ‘Dancersport dalam acara KONI Award’di Pendapa Kudus telah mencederai nilai kepatutan di ruang yang menjadi simbol kehormatan pemerintah daerah.

“ Pendapa itu marwahnya pemerintah Kabupaten Kudus. Tidak pantas dijadikan tempat penampilan seperti itu. Dalih bahwa itu cabang olahraga juga tidak tepat. Kalau begitu, apakah atlet binaraga boleh tampil di jalan umum? Tentu tidak pantas…! tegas Soleh.

Dalam Aksi ‘Dancersport dalam acara KONI Award’ tersebut, Soleh tidak hanya mempersoalkan penampilanya, tetapi juga menyoroti kegiatan yang dianggap masuk kategori pornoaksi, melanggar norma, etika, serta kearifan lokal.

“ Kami menilai ada unsur pornoaksi, yang jelas melukai nilai moral dan budaya masyarakat Kudus. Ini tidak boleh dibiarkan…” ungkapnya.

Tidak hanya soal tarian yang dianggap pornoaksi, aksi ini juga menyoroti masalah yang lebih besar di tubuh KONI Kudus. Soleh menyebut adanya dugaan manipulasi anggaran dan kepengurusan KONI yang berantakan.

Di tempat lain dalam waktu yang sama, massa juga menggelar aks di Gedung DPRD Kudus, Ketua Komisi D DPRD Kudus, Mardijanto, menyayangkan adanya viral video penampilan wanita berpakaian seksi menari atau senam di pendopo Kudus yang kurang pas.

“ Sudah viral tadi malam, saya juga kaget tadi malam kaitannya KONI ada acara di pendopo itu, padahal nyuwun sewu seperti…” kata Mardijanto kecewa.

“ Mohon maaf pendopo itu kan tempatnya sakral tidak untuk tempat seperti itu kurang pas, kan ada yang lain yang sopan lah,” lanjut dia.

Dia menyayangkan aksi tari erotis tersebut, sebab tidak sesuai dengan nama Kudus dikenal sebagai kota santri dan dikenal dengan wisata religi Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *