USAI DI DEMO WARGA, KEPALA SPPG TLOGOWONGU 1 PATI AKHIRNYA MENGAKU PIHAKNYA HANYA MENERIMA Rp 7.900. YANG LAINYA BUAT SIAPA…?

Jatengtime.com-Pati-Gonjang-ganjing terkait program unggulan Presiden Prabowo yaitu MBG (Makan Bergizi Gratis) makin viral dan menuai tanggapan makanan beracun hinga kritikan pedas dari masyarakat terkait tidak transparan anggaran MBG yang diambil dari dana pendidikan.

Tanggapan dan kritikan pedas juga dilakukan oleh masyarakat Bhumi Mina Tani yang terkenal tegas, kompak dan kuat persaudaraanya hingga mengadakan demo menutup SPPG Tlogowungu 1, Kabupaten Pati, pada Jum’at (27/2/2026) lalu.

Yang menarik dan layak untuk kajian bersama adalah pengakuan Kepala SPPG Tlogowungu 1, Dicky Ardian Listiyanto yang terpaksa mengaku bahwa pihaknya hanya menerima PAGU anggaran sebesar Rp.7.900, artinya tiap porsi MBG nilainya hanya Rp 7.900 dan tidak adanya kenaikan HET karena sudah ditentukan oleh Disperindag.

“ Iya benar, kami hanya menerima anggaran Rp 7.900 (per porsi). Tidak adanya kenaikan HET karena sudah ditentukan oleh Disperindag…” kata Dicky tampak gelisah dan tertekan.

Tanggapan aktivis anti korupsi Pati, Yang Rp 2.100 dikorupsi siapa…?

Padahal, konon dari gembar-gembor dari pihak Badan Gizi Nasional, anggaran untuk MBG adalah Rp 15.000, di potong untuk biaya masak hingga sewa tempat SPPG Rp 5.000. Sedangkan anak/siswa penerima manfaat berhak mendapatkan MBG senilai Rp 10.000.

Satari (35) salah satu warga Tlogowungu kepada wartawan, Selasa (3/3/2026) menyatakan kalau benar SPPG hanya menerima anggaran Rp 7.900, harus diusut, yang Rp 2.100 lari kemana, dikorupsi siapa…?.

“ Ini kalau benar terjadi adalah sebuah korupsi yang sistematis. Dana MBG katanya Rp 15.000, di potong untuk biaya masak hingga sewa tempat SPPG Rp 5.000. Sedangkan anak/siswa penerima manfaat berhak mendapatkan MBG senilai Rp 10.000. Lha yang Rp 2.100 lari kemana…?. Harus diusut tuntas, dikorupsi siapa…” kata Satari yang juga salah satu aktivis anti korupsi Pati.

“ Ya bisa dimaklumi dengan anggaran cuma Rp 7.900 tiap porsi, SPPG manapun di seluruh Indonesia akan bingung membelanjakanya. Jaman lagi susah, seluruh harga barang pokok naik tidak terkendali, semua mahal. Saya tengah-tengah bukan membela SPPG atau orang tua siswa penerima manfaat MBG lho. Kembali saya tegaskan, APH harus mengusut tuntas…” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *