Jatengtime.com-Jepara-Banjir dan tanah longsor sedang melanda di wilayah Muria Raya ( Eks Karisidenan Pati : Juwana-Jepara-Kudus-Pati-Rembang-Blora ) akibat curah hujan ekstrim beberapa hari terakhir.
Sebelumnya BMKG sudah melaporkan pada akhir Desember 2025 lalu, bahwa puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada bulan Januari 2026. Wilayah dengan potensi hujan tinggi hingga sangat tinggi berpotensi melampaui 500 milimeter per bulan meliputi Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua bagian selatan, serta sebagian Sulawesi Selatan.
Berdasarkan informasi terkini (per 11 Januari 2026), bencana banjir dan tanah longsor terparah saat ini berpusat di Kabupaten Pati. Beberapa kabupaten lain yang termasuk dalam Muria Raya berpotensi mengalami dampak tidak langsung/ringan seperti gangguan lalu lintas di jalur Pantura Pati-Rembang akibat luapan banjir.
Kabupaten Jepara
Banjir bandang dan tanah longsor di 18 titik melanda Kabupaten Jepara, sebanyak 1.445 KK ( 3.522 jiwa) warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, terisolasi akibat jalan penghubung terputus total tertutup longsoran tanah dan bebatuan besar.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto Minggu (11/1/2026) kepada awak media membeberkan ratusan tim gabungan dari BPBD, Dinas PU, Dinas Kesehatan,TNI dan Polri, relawan PMI dan warga gotong royong membersihkan material tanah dan batu berukuran kecil hingga besar yang memutuskan satu-satunya jalan penghubung keluar masuk Desa Tempur.
Akibat banjir bandang dan tanah longsor ini juga memutuskan ruas jalan penghubung antara Desa Damarwulan dengan Desa Tempur, Kecamatan Keling. Untuk dapat mengakses ke desa penghasil kopi tersebut adalah membuka jalan tertutup material longsor dan membuat jalan baru.
Akibat longsor ini juga memutuskan ruas jalan penghubung antara Desa Damarwulan dengan Desa Tempur, Kecamatan Keling.
Proses pembersihan tumpukan material batu sepanjang 60 meter dengan ketinggian lebih dua meter tersebut juga mengerahkan alat berat sekaligus membuat dan memperbaiki jalan yang hilang.
“ 5 alat berat kita kerahkan untuk melakukan pembersihan material longsor, karena berdasarkan data ada 17 titik longsor di daerah Tempur…” kata Arwin.
Pemerintah Kabupaten Jepara beserta instansi vertikal terkait seperti PMI segera membuat dapur umum dan telah menetapkan darurat bencana di Kecamatan Keling.
Banjir bandang dan longsor juga membuat badan jalan hilang total sepanjang 50 meter setelah tergerus aliran Sungai Gelis dengan titik kritis lainnya berada di Jembatan Mbah Sujak terkikis hingga sedalam enam meter dan juga menciptakan alur sungai yang berpindah lokasi.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jepara Ary Bachtiar mengungkapkan dikarenakan jalan penghubung antara Desa Damarwulan dengan Desa Tempur, Kecamatan Keling terputus total, maka prioritas utama yang dilakukan adalah membuka akses agar bantuan dan evakuasi kepada ribuan warga yang terisolasi bisa dilakukan secepatnya.
Pemkab Jepara telah berkoordinasi dengan Perhutani untuk meminjam lahan guna membuka jalur alternatif sementara yang dapat dipergunakan oleh warga untuk keluar masuk desa serta segera menyalurkan bantuan untuk warga terdampak.
“ Kita lakukan langkah awal membuka jalur alternatif darurat, pinjam lahan Perhutani dan kedepan dilakukan perbaikan jalan penghubung secara permanen…” kata Ary.








