Jatengtime.com-Kudus-Banjir dan tanah longsor sedang melanda di wilayah Muria Raya ( Eks Karisidenan Pati : Juwana-Jepara-Kudus-Pati-Rembang-Blora ) akibat curah hujan ekstrim beberapa hari terakhir.
Sebelumnya BMKG sudah melaporkan pada akhir Desember 2025 lalu, bahwa puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada bulan Januari 2026. Wilayah dengan potensi hujan tinggi hingga sangat tinggi berpotensi melampaui 500 milimeter per bulan meliputi Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua bagian selatan, serta sebagian Sulawesi Selatan.
Berdasarkan informasi terkini (per 11 Januari 2026), bencana banjir dan tanah longsor terparah saat ini berpusat di Kabupaten Pati. Beberapa kabupaten lain yang termasuk dalam Muria Raya berpotensi mengalami dampak tidak langsung/ringan seperti gangguan lalu lintas di jalur Pantura Pati-Rembang akibat luapan banjir.
Kabupaten Kudus
Intensitas hujan berlangsung cukup tinggi terjadi di Kabupaten Kudus, sejak Jum’at (9/1/2026) hingga Minggu (11/1/2026) membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus terendam banjir dan berpotensi tanah longsor.
Salah satu daerah yang terendam (dan menjadi langganan banjir) banjir berada di Kecamatan Mejobo, tepatnya di perempatan Mejobo yang merupakan jalan alternatif penghubung Kabupaten Kudus menuju Kabupaten Pati.
Ketinggian air yang merendam jalan bervariasi hingga sekitar 50 sentimeter membuat lalu lintas kendaraan dan warga terganggu. Tidak sedikit sejumlah kendaraan terutama roda dua mogok.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Eko Hari Djatmiko meleporkan di Kecamatan Mejobo tercatat 7 desa yang terdampak, yaitu Desa Mejobo, Jojo, Kesambi, Golantepus, Tenggeles, Hadiwarno, Kesambi dan Temulus.
35 rumah dan 120 jiwa di Kesambi terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai 20-50 sentimeter. Desa Jojo 1.040 jiwa dan sekitar 200 rumah terkena dampak banjir dengan ketinggian air antara 5-30 sentimeter.
Desa Mejobo 1.741 jiwa dan kurang lebih 425 rumah terendam air sekitar 40 sentimeter dikarenakan intensitas hujan yang tinggi serta luapan Sungai Dawe, Piji, Logung, Jati Pasean, dan Mrisen.
Desa Golantepus, 701 jiwa dan 150 rumah terendam air sekitar 40 sentimeter. Desa Temulus, 520 jiwa 40 rumah terendam air antara 5-20 sentimeter. Desa Hadiwarno yang terkena dampak banjir adalah area persawahan.
Banjir juga sempat melanda Kecamatan Kota, Kudus yakni Desa Demangan dan Singocandi sempat terendam banjir akibat limpasan sungai Gelis.








